Tantangan Ditengah Berkembangnya UMKM Di Kutim

$rows[judul] Keterangan Gambar : Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur, Pasombaran (kanan), tampak Bupati H Ardiansyah Sulaiman tinjau lapak UMKM

Makineksis.com, Kutai Timur - Walau keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), tengah mengalami perkembangannya, bukan berarti terlepas dari berbagai tantangan

Adapun indikator tantangan-tantangan tadi yang dimaksudkan baik pada produksi hingga kesiapan ekspor masih menjadi hambatan utama bagi pelaku usaha untuk naik kelas.

Hal ini diakui  Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur, Pasombaran, yang mengatakan  bahwa salah satu kendala utama adalah keterbatasan sarana dan prasarana pengiriman produk ke luar daerah, terutama untuk kebutuhan ekspor.

“Biaya logistik masih tinggi. Selain itu, kontinuitas produksi belum stabil karena sebagian besar UMKM kita masih berskala rumah tangga,” terangnya, saat Makineksis.com menyambangi ruang kerjanya, Selasa (25/11) 2025

Dirinya mengungkapkan, beberapa produk unggulan seperti amplang batubara, gula aren, dan produk turunan nanas sebenarnya telah dilirik pasar luar negeri, namun belum sepenuhnya siap dari sisi standar mutu dan volume produksi.

Tantangan tersebut mencakup aspek produksi, bahan baku, hingga kesiapan untuk menembus pasar ekspor. Salah satu contoh adalah produk amplang, yang masih menghadapi kendala dalam memenuhi standar uji mutu nasional.

“Hasil uji laboratorium menunjukkan kadar minyak pada amplang kita masih cukup tinggi. Ini menjadi catatan penting agar kualitas produk bisa bersaing di pasar ekspor,” ungkapnya.

Selain persoalan mutu, keterbatasan bahan baku juga menjadi tantangan tersendiri. Produksi amplang batubara misalnya, sangat bergantung pada pasokan tinta cumi dan ikan tenggiri, yang ketersediaannya belum mencukupi dari nelayan lokal.
"Akibatnya kan pelaku usaha terpaksa membeli bahan dari luar daerah dengan biaya lebih tinggi," tambahnya.

Kendala berikutnya adalah akses permodalan. Sebagian besar pelaku UMKM di Kutim masih kesulitan memperoleh pinjaman modal usaha karena terbentur persyaratan administrasi dari lembaga keuangan formal.

Akibatnya, mereka kerap mengandalkan modal pribadi atau pinjaman informal dengan bunga tinggi. Meski begitu, Pasombaran menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi.
“Kami sedang berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memperkuat rantai pasok bahan baku dari sektor perikanan dan pertanian. Selain itu, kami juga dorong adanya kemudahan akses pembiayaan agar UMKM bisa lebih berkembang,” tandasnya.(adv/ Diskominfo Staper Kutim)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)